Melankolia

Cerpen Melankolia

Besok, kamu akan mati.
____

Gelak tawamu masih menggema.

Sebuah pesta yang kamu nantikan atas penatmu pada kenyataan telah datang. Jujur saja, sebagai manusia yang baik, saya tentu bahagia. Saya hafal betul bagaimana kamu menantikan hal ini sebelumnya. Bola matamu yang hitam selalu terasa lebih kelam ketika senyummu tak berada di tempat yang seharusnya.

Saya tahu, kamu pantas untuk bahagia.

Kamu sudah dapatkan bayang-bayang bahagiamu di tempat yang seharusnya. Di kehidupanmu yang lain, kamu adalah kamu sebagaimana kamu yang kamu mau.

***

“Tuhan, kita berteman, kan? Tolong jaga saya agar saya tetap waras.”

Gadis itu menutup serangkaian obrolan malamnya dengan tuhan. Begitu kebiasannya, mengungkap segala yang dia rasa di setiap harinya sebelum kantuk menyerang. Baginya, tidak ada tempat berbagi yang lebih meyakinkan selain tuhan. Sebab itu, dia telah mengikrarkan janji persahabatan dengan tuhannya. Dia percaya, tidak akan ada pengkhianatan yang mungkin dilakukan tuhan. Buktinya, tuhan selalu ada pada setiap kali dia tersungkur di sisa malam.

Di sebuah ruang sempit berukuran 2 x 1 x 1 meter, Leila merebahkan tubuhnya. Tak banyak yang dapat ditangkap oleh penglihatannya selain warna putih dari dinding, kasur tipis, dan bantal yang dia digunakan. Sedikit pula yang dapat dilakukan karena keterbatasan ruang yang tidak memungkinkannya untuk banyak bergerak.

Seusai obrolan panjangnya dengan tuhan, Leila akan berusaha untuk memejamkan mata. Alih-alih menikmati kegundahan yang dirasa, dia memilih untuk masuk ke alam bawah sadar dan terlelap. Dengan begitu, dia dapat datang ke tempat lain yang menjauhkannya dari kenyataan. Itulah mengapa dia sangat menyukai malam. Malam adalah waktu baik yang membawanya pada kebahagiaan semu yang diidamkan. Malam, seperti namanya.

Malam ini, waktunya tak cukup banyak untuk bermain di alam lain. Sebab, ada tugas besar yang sedang menanti.

***

Tiga jam sebelumnya, Leila merasakan sakit di sekitaran pipi. Lagi-lagi, ibu marah karena hal kecil. Cangkir kesayangan ibu belum dicuci ketika jam minum jahe panas telah menanti.

“Kamu itu kalau kerja enggak pernah becus!” teriakan ibu menggema seiring dengan gerak tangannya yang begitu cepat melayangkan tamparan ke pipi gadis di hadapannya.

Leila hanya menunduk, menelungkupkan telapak tangan kirinya untuk meredam panas dan perih yang menjalar di sebelah wajahnya. Tetap dalam diam. Begitu hening, sampai hela napasnya pun sulit diteliti indera.

“Kalau bukan karena kamu, saya sudah pergi dari sini! Anak sialan!” ujar ibu kemudian, masih dengan luapan amarah.

Kali ini, Leila mengangkat wajah. Ditangkapnya dua bola mata wanita yang melahirkannya itu dalam sekejap. Hitam pekat. Sama persis dengan miliknya.

“Apa? Sudah berani kamu sama saya?”

Leila tersenyum tipis dan kembali menundukkan kepala.

***

“Apakah kamu tahu mengapa saya adalah saya?” Leila membuka suara dengan rendah gairah, matanya memandang lurus ke arah langit-langit yang hanya berjarak satu meter dari tubuhnya yang rebah.

“Karena hanya kamu yang pantas untuk menjadi dirimu,” semilir tipis angin yang menyelip dari celah pintu membawa jawaban dari sang lawan bicara.

“Kenapa… saya?” tanyanya lagi.

“Kamu langka, Leila. Jika kamu bukan kamu, maka saya yakin kamu tidak akan sekuat yang saya tahu.”

Leila terdiam, mengusap ujung-ujung rambutnya yang terurai.

“Tuhan, lelah rasanya menjadi saya. Hidup dengan belenggu rumah tua dan ibu yang selalu menganggap saya tidak bisa apa-apa. Kadang, saya merasa seperti tercekik dengan pertanyaan yang sama. Kenapa ibu saya begitu membenci saya? Apa karena bapak pergi dengan perempuan idamannya? Lalu, kenapa saya? Saya tidak pergi. Saya selalu berusaha untuk tidak membuat ibu saya susah, sebelum dan sesudah kepergian bapak,” ucap Leila.

“Sekarang, lihat, sudah berapa banyak lebam yang saya terima? Dan, harus berapa banyak lagi yang saya terima? Jika memang ini membuat ibu kembali seperti ibu yang dulu, saya rela. Namun, saya hanya dapat menatap kebencian di matanya. Tuhan, mengapa kamu tidak mengizinkan saya untuk mati saja?” lanjutnya bertanya.

“Bersyukurlah pada setiap apa yang menimpa. Sebab saya tahu, kamu sanggup melaluinya.”

Bagaimanapun juga, Leila selalu percaya pada tuhan. Seperti apa yang juga dipercaya oleh banyak orang, tuhan adalah sang maha segala. Maka sepertinya, tak perlu ada keraguan untuk mempercayai tuhan. Persoalan hidup, pasrahkan saja padanya. Toh, dunia hanya sementara, kan? Namun bagi Leila, tuhan bukanlah Tuhan seperti kata kebanyakan orang. Ya, tuhan adalah sahabatnya. Sederhana, agar tidak ada jarak antara dia dan tuhannya.

“Bersyukur, bersyukur, bersyukur,” Leila menggemakan suaranya sendiri dengan memejamkan mata seolah ingin meresapinya dalam-dalam.

“Surgamu ada di telapak kaki ibumu, Leila. Penuhi inginnya sebaik yang kamu bisa.”

Sedetik kemudian, Leila membuka mata. Kemudian dia tahu, apa yang benar-benar harus dilakukannya.

“Tuhan, kita berteman, kan? Tolong jaga saya agar saya tetap waras.”

***

Rutinitas pagi yang tampak sama. Kamu menyirami bunga-bunga kesayanganmu di muka rumah. Sejenak, saya menatap punggungmu dari kejauhan dengan begitu bahagia. Kamu tampak cantik, sama seperti biasanya. Saya masih mencintaimu seperti hari-hari sebelumnya sepanjang hidup saya.

Rutinitas pagi yang tampak sama. Saya kembali ke balik meja dapur untuk menyiapkan sarapan. Mengasah pisau guna memotong daging ayam yang kemarin kamu minta dijadikan semur saja. Untuk membuatmu lebih bahagia, saya begitu bersemangat mengasah pisau yang akan saya gunakan. Saya berjanji, hari ini saya tidak akan membuatmu kecewa.

Saya melihatmu masuk ke dalam rumah usai berurusan dengan bunga-bunga. Saya meninggalkan meja dapur untuk menghampirimu dengan senyum yang saya sunggingkan. Kali ini saya menengadahkan kepala, saya ingin kedua pasang bola mata hitam kita saling tatap dalam waktu yang lama. Hingga saya bisa benar-benar percaya, bahwa kamu adalah ibu saya. Ibu yang melahirkan saya dengan bertaruh nyawa. Ibu yang sempat mencintai saya selayaknya belahan jiwa.

Namun, sekarang kamu selalu murka ketika bertemu muka dengan saya. Kamu mulai naik pitam. Saya mundur beberapa langkah, menghindar dari tanganmu yang mulai mencoba menjamah tubuh saya dengan pukulan. Saya tersudut, tapi sebagai anak yang baik, saya tahu apa yang seharusnya saya lakukan.

***

Nada-nada kebahagiaan yang semula sering diciptanya sendirian kini bertransformasi menjadi sebuah kenyataan. Surat Yaasin merobek kesepian dan menggema ke seluruh isi rumah. Pelayat berdatangan dengan setelan lengkap berwarna hitam dan amplop yang mereka masukkan ke dalam baskom di dekat jenazah. Sebagian tampak menangis, tapi lebih banyak yang datang hanya untuk menunaikan kewajiban semata.

Usai disalatkan, jenazah siap diantar ke dalam pusara.

Namun, sebelum tanah ditimbun kembali ke makam, Leila berkata, “Tunggu, Pak, cangkir kesayangan ibu ketinggalan.”

***

Gelak tawamu masih menggema.

Sebuah pesta yang kamu nantikan atas penatmu pada kenyataan telah datang. Jujur saja, sebagai manusia yang baik, saya tentu bahagia. Saya hafal betul bagaimana kamu menantikan hal ini sebelumnya. Bola matamu yang hitam selalu terasa lebih kelam ketika senyummu tak berada di tempat yang seharusnya.

Saya tahu, kamu pantas untuk bahagia.

Kamu sudah dapatkan bayang-bayang bahagiamu di tempat yang seharusnya. Di kehidupanmu yang lain, kamu adalah kamu sebagaimana kamu yang kamu mau.

Baik-baiklah di alam baka, ibu tercinta.

Tuhan bilang, saya harus memenuhi inginmu selagi saya mampu. Sebab, kakimu adalah surga bagiku. Berkali-kali, kamu mengatakan ingin pergi. Saya tidak akan lagi menghalangi. Sebagai rasa cinta saya pada ibu, saya membantumu untuk keluar dari keadaan yang tidak kamu mau.

Setelah ini, saya bisa merayakan masa depan saya di surga, kan?

Benar kan, tuhan?

— selesai.





Tabik!



Hvman



*diselesaikan pada tanggal 13 Februari 2018


Melankolia Melankolia Reviewed by hvman on December 29, 2023 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.

Pages

Label