Hai, Anak Kecil!
Aku tau kamu ada. Aku bisa merasakan degub jantung yang semakin cepat. Degdegan, ya? Aku ngerti, kamu takut ditinggalin. Aku ada kok, sama kamu di sini. Tanganmu gemetar sekali, aku genggam boleh, ya? Semoga jemariku cukup hangat untuk menepis resahmu yang memberatkan dada.
Mungkin, ketika kamu sama orang lain, kamu selalu dipaksa untuk jadi aku dalam keadaan apa pun. Jadi lebih dewasa, lebih mengerti keadaan, lebih meredam segala ingin yang membuncah. Namun samaku, kamu boleh muncul kok. Kamu boleh jadi kamu; jadi anak kecil yang manja dan suka merengek atas perihal sepele. Kamu kulihat, perasaanmu valid. Aku gak akan suruh kamu pergi kayak mereka. Aku mau kamu tetap bertahan sama aku. Kita lewati sama-sama, ya? Aku tau kok kamu tangguh.
Aku percaya, semua tangisanmu, semua pergumulan rasa tidak menyenangkan yang kamu sampaikan adalah caramu untuk tetap menjadi manusia. Tuhan menciptakan segala emosi tersebut untuk melengkapimu, Sayang. Tolong, jangan merasa takut untuk mengeluarkannya, ya? Ada aku. Pulang ke aku, ya? Aku akan peluk kamu, pun dengan semua perasaan negatif itu.
Wajar kok kamu merasa marah atau sedih. Kamu punya memori yang tidak baik. Sakit banget ya rasanya dicuekin? Gak enak ya rasanya melihat orang-orang di sekelilingmu gak peduli? Berat banget ya rasanya sendiri? Padahal, tangan mungilmu ini sudah bolak-balik menarik ujung baju mereka untuk meminta pertolongan. Padahal, suaramu sudah serak demi berteriak minta bantuan. Padahal, kamu hanya ingin bergantian. Ambil. Ambil peranmu, ya. Jadilah anak-anak yang merengek dan mengamuk karena marah atas hal yang tidak sesuai dan membuatmu sakit. Tetap lantang ya, Sayang. Aku butuh itu.
Dunia memang bukan tempat yang aman, tapi dengan segenap jiwa yang kupunya, aku akan berupaya agar kita bisa sama-sama bertahan.
Enggak. Kamu bukan monster. Kamu cuma Anak Kecil yang rindu dikasihi dan disayangi. Kamu cuma Anak Kecil yang terlalu dini menanggung segala pelik. Kamu cuma Anak Kecil yang masih tertinggal di dalam tubuh dewasaku ini.
Maaf, ya. Maaf, karena kamu harus menanggung semua. Maaf, karena hadirmu seringkali ditepis oleh orang-orang yang hanya menantiku di hidup mereka. Maaf, membuatmu merasa tidak terlihat. Maaf, tidak segera menolong ketika kamu berteriak meminta bantuan. Maaf, aku terlambat untuk menyadari bahwa kamu butuh seseorang. Aku datang. Aku ada.
Aku tau, kamu mengharapkan seseorang yang lain, kan? Anak Kecil, berharap itu menyakitkan.
Dari aku,
versi dewasa yang menyayangimu.
No comments: